BANDUNG, JABAR – Di tengah tuntutan masyarakat yang semakin kritis, peran seorang kepala daerah tidak lagi cukup hanya hadir dalam seremoni, rapat, dan menerima laporan dari bawahannya. Masyarakat hari ini tidak butuh pemimpin yang hanya “mendengar dari meja”, tetapi pemimpin yang melihat, merasakan, dan memastikan langsung apa yang terjadi di lapangan.
Apa yang dilakukan oleh Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, setidaknya memberi gambaran sederhana, bahwa ” memimpin bukan sekadar mengatur, tetapi berani membongkar kebiasaan lama yang merugikan masyarakat, ketika birokrasi dipangkas, pelayanan dipermudah, dan jalur-jalur tidak terlihat diputus, di situlah negara benar-benar hadir.
Pertanyaannya, apakah semangat yang sama sudah terasa , hingga ke Kabupaten Bandung Barat?
Hari ini, masyarakat tidak kekurangan program. Yang kurang adalah kepastian pelaksanaannya. Tidak sedikit kebijakan yang terdengar baik di atas kertas namun, hilang saat menyentuh realita.
Infrastruktur desa direncanakan, anggaran disebutkan, prioritas disusun—tetapi hasilnya sering kali tidak sampai kepada masyarakat.
Di sinilah letak pentingnya peran Bupati, karena seorang Bupati, bukan hanya penandatangan kebijakan saja, bukan pula sekadar penerima laporan yang sudah dirapikan, akan tetapi, Bupati adalah pengendali utama jalannya pemerintahan daerah, yang harus memastikan, bahwa setiap rupiah anggaran benar-benar bekerja untuk rakyat, bukan sekadar tercatat di laporan saja.
Jika hanya mengandalkan laporan, maka yang terlihat hanyalah “baik-baik saja”
Namun, jika turun langsung, barulah terlihat mana yang benar-benar bekerja, dan mana yang hanya sekadar terlihat bekerja. Sudah saatnya pola kerja diubah, dari menunggu laporan menjadi aktif mengontrol laporan ke lapangan akan kebenarannya.
Dari percaya sepenuhnya pada bawahan menjadi melakukan verifikasi langsung,
dari rutinitas administratif menjadi kepemimpinan yang tegas dan berani membenahi, karena sesungguhnya, banyak persoalan di daerah pedesaan yang bukan hanya karena tidak ada anggaran saja, melainkan karena lemahnya kontrol dan pembiaran terhadap sistem yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Masyarakat tidak menuntut hal yang muluk. Mereka hanya ingin melihat bahwa pemerintah benar-benar bekerja.
Belajar dari yang sudah dilakukan di tingkat provinsi, keberanian mengambil langkah sederhana, namun tepat sasaran bisa membawa perubahan besar.
Tidak perlu menunggu program besar, cukup pastikan program yang sudah ada benar-benar berjalan di setiap wilayah kewenangannya, karena Kabupaten Bandung Barat mempunyai potensial yang sangat besar.
Namun, potensi tanpa eksekusi , hanya akan menjadi catatan panjang tanpa makna.Pada akhirnya, jabatan adalah amanah. Dan amanah tidak cukup dijalankan dengan laporan- laporan tak bermakna, tetapi dengan tindakan nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Narasumber Pewarta : Tim Investigasi Hati Suara Rakyat Bersuara / Tim Red. Editor Red : Egha.













