MAKASSAR – Ada beberapa peristiwa yang kalau dicermati banyak mengundang tanda tanya, mengundang rasa penasaran, kok kejadiannya hampir berbarengan.
Kemarin Rakernas PSI di kota Makassar berlangsung meriah, malah boleh dibilang menghebohkan sekaligus mengharukan. Rakernas PSI ini berlangsung dari tanggal 29 sampai 31 Januari 2026. Lalu tanggal 1 Februari 2026 Kepolisian mengumumkan dalam suatu konperensi pers bahwa Riza Chalid sudah jadi buronan Interpol sejak 23 Januari 2026. Riza Chalid sekarang diawasi dan dicari di 196 negara!
Perhelatan PSI ini benar-benar menghebohkan lantaran ditandai juga dengan “penjaketan” (tanda resmi masuk PSI dengan dipasangkan jaket dengan simbol gajah oleh ketum Kaesang). Tercatat pada momen itu yang dipasangkan jaket PSI adalah mantan kader dari Partai Nasdem, PDI Perjuangan, Partai Golkar, PKS dan PKB serta ada pula tokoh-tokoh agama yang punya pengaruh besar di komunitasnya.
Ini seperti gempa politik dengan magnitude 8 sampai 9 pada skala Richter. Ini tinggi sekali magnitude-nya. Apalagi dengan masuknya Rusdi Masse Mapasessu yang saat ini masih berstatus anggota DPR dari fraksi Nasdem. Ia yang kerap disapa dengan inisial RMS bukan orang kemarin sore di dunia persilatan politik nasional.
Pindah partai yang dilakoninya itu tentu membawa dampak pada parpol lamanya. Padahal ia belum lama ini diangkat oleh parpol lamanya untuk menggantikan posisi Sahroni yang mesti minggir dari panggung politik (entah selamanya atau hanya sementara) lantaran ucapannya yang dianggap menyinggung rakyat dan telah menyulut demontrasi besar-besaran pada tahun 2025 yang lalu.
Upaya mengganggu jalannya Rakernas PSI dicoba juga oleh segelintir oknum yang sempat berdemonstrasi kecil-kecilan di depan Hotel Clario (tempat Rakernas berlangsung). Segelintir demonstran itu menyerukan penolakan atas kehadiran Jokowi di Makassar.
Rupanya kehadiran Jokowi masih dianggap “berbahaya” bagi eksistensi kelompok tertentu yang bertindak sebagai “aktor intelektual” alias biang kerok dibelakar aksi tersebut. Kenapa mesti menolak kehadiran Jokowi? Tak jelas juga.
Tapi yang jelas, gempa politik yang ditimbulkan akibat masuknya kader parpol lain ke PSI itu dipastikan bakal menyebabkan terjadinya gempa-gempa susulan yang bisa saja magnitude-nya tak kalah menggetarkan. Blantika politikan nasional jadi semakin hingar bingar. Siapa yang bilang Pemilu 2029 masih lama? Tapi manuver-manuver partai politik sudah dimulai sejak kemarin.
Mereka-mereka yang hijrah ke PSI ini bukanlah orang-orang sembarangan, singkat cerita mereka sudah punya rekam jejak yang solid di kancah politik maupun kancah pengabdian sosialnya masing-masing. Sehingga “political behavior” dari setiap mereka mestilah dihitung dampak rentetannya. Getaran politik mereka bisa memicu gelombang tsunami yang dahsyat. Jokowi-effect ternyatalah tak bisa dipandang enteng, itu fakta.
Rakernas PSI ditutup tanggal 31 Januari 2026, kemudian diramaikan dengan acara tambahan pada tanggal 1 Februari 2026 seperti jalan sehat bersama, lalu bermain sepakbola bersama Kaesang dan pemain-pemain PSM (Persatuan Sepakbola Makassar). Acara seru-seruan ini berlangsung meriah dan menarik animo publik yang amat ramai. Memilih jalan sehat yang bisa diikuti semua kalangan dan sepakbola yang merupakan olahraga favorit rakyat memang pilihan cerdas.
Kejadian lain yang terjadi hampir berbarengan dengan Rakenas PSI adalah yang menimpa mantan menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya Bakar, yang juga berasal dari Partai Nasdem. Tim penyidik Kejaksaan Agung (Kejaksaan) Agung dikabarkan telah menggeledah rumah mantan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) itu. Dugaan kejahatan yang dilakukan Siti Nurbaya Bakar terkait dengan kasus korupsi tata kelola perkebunan dan industri sawit periode 2015-2024 di Kementerian LHK.
Dari hasil penggeledahan itu juga dilaporkan ditemukannya dokumen-dokumen terkait transaksi-transaksi keuangan para pejabat di lingkungan Kementerian LHK waktu Siti Nurbaya menjabat. Ada aliran transaksi suap, berjumlah ratusan miliar rupiah, ke oknum-oknum di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).
Kasusnya menyangkut juga soal korupsi dalam alih fungsi lahan hutan di sejumlah provinsi para periode 2015-2024. Bukan cuma terkait alih fungsi lahan hutan menjadi kawasan industri dan perkebunan kelapa sawit, tetapi juga terkait alih fungsi lahan hutan untuk pertambangan batubara, nikel di beberapa provinsi.
Dikabarkan ada juga anggota DPR yang terlibat dalam dugaan korupsi yang dilakukan Siti Nurbaya Bakar ini, tapi belum dumumkan nama dan asal parpolnya. Hanya saja dijelaskan ada kaitannya dengan Siti Nurbaya.
Wah, ini jadi seru lantaran sementara ini ada sementara pihak yang meniupkan isu bahwa Menteri Kehutanan sekarang, Raja Juli Antoni, yang baru menjabat setahun belakangan ini yang telah melakukan alih fungsi lahan. Akibatnya terjadi banjir dan tanah longsor di Sumut, Aceh dan Sumbar baru-baru ini. Padahal Menteri Raja Juli Antoni yang berasal dari PSI ini sedang melakukan bersih-bersih akibat “kotoran korupsi” yang dilakukan rezim sebelumnya.
Ulah jahat komplotan ini telah meninggalkan tradisi yang amat buruk lingkungan kantor Kementerian Kehutanan, beberapa pejabat di tingkat Direktorat Jenderal kabarnya bakal dicokok juga. Kita lihat saja perkembangannya nanti. Semoga birokrasi di seluruh Kementerian dan Lembaga negara bisa semakin bersih, alias bebas korupsi.
Selain kasus Siti Nurbaya saat menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kita barusan juga disodorkan dengan fakta yang cukup menggemparkan. Koperensi pers dua petinggi Polri berpangkat Brigadir Jenderal Polisi, pertama Kepala Divisi Hubungan Internasional Hubinter Polri (Kadiv Hubinter Polri), Brigjen Pol Amur Chandra dan Sekretaris National Central Bureau (NCB) Hubinter Polri, Brigjen Pol Untung Widyatmoko yang mengumumkan bahwa Riza Chalid telah dijadikan subyek “Interpol Red Notice”.
Dan subyek “Interpol Red Notice” ini sudah sudah teridentifikasi keberadaannya di salah satu negara. Dan keberadaannya sudah terpetakan, pihak interpol pun juga sudah menjalin kontak dengan pihak-pihak yang diperlukan. Brigjen Pol Untung Widyatmoko pun mengatakan bahwa upaya penangkapan sedang dikerjakan, dan kita akan di-update terus. Kita pantau terus, jangan sampai ini cuma jadi drama murahan yang redup dimakan waktu.
Riza Chalid yang dicari-cari pihak Kejaksaan sejak 2018 terus menghilang entah kemana. Menurut laporan Kompas.com di tahun 2018, Riza Chalid terlihat di hadapan publik saat menghadiri acara Akademi Bela Negara (ABN) milik Partai Nasdem. Katanya atas undangan Surya Paloh untuk ikut mendengarkan pidato Presiden Joko Widodo saat akan memberikan pengarahan di depan kader ABN.
Waktu itu acara ABN Nasdem tersebut digelar bertepatan dengan ulang tahun ke-67 Surya Paloh. Riza Chalid waktu itu sedang dicari-cari Kejaksaan terkait drama “Papa Minta Saham”. Ceritanya pada akhir 2015 lalu, Kejaksaan Agung sempat berupaya memanggil Riza Chalid untuk diperiksa terkait terkait rekaman kasus “Papa minta saham”. Drama ini tak pernah tuntas, hanya sekedar jadi “hot news” yang tak berkesudahan. Tak pernah selesai, hanya meredup.
Dalam rekaman itu Riza Chalid bersama Setya Novanto yang saat itu menjabat sebagai Ketua DPR sekaligus Ketua Partai Golkar diduga berupaya meminta saham Freeport kepada Maroef Sjamsoeddin (saat itu Presiden Direktur PT Freeport Indonesia). Rupanya Rekaman percakapan mereka tanpa disadari telah direkam oleh Maroef Sjamsoeddin dan tersebar luas, intinya mereka minta saham, terdengar mereka sambil tertawa terbahak-bahak disela-sela percakapannya.
Bahkan keduanya diduga mencatut nama Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla saat meminta saham tersebut. Kejagung mencium ada upaya permufakatan jahat dalam kasus ini. Namun, Riza Chalid tidak pernah memenuhi panggilan Kejagung. Bahkan, Kejagung tidak mengetahui dimana keberadaan Riza Chalid saat itu. Drama lagi.
Mantan Kejagung yang juga dari Partai Nasdem waktu itu adalah HM Prasetyo, ia bilang begini, “Namanya cari orang itu tidak mudah. Mungkin mukanya sudah diubah, hidungnya sudah ditambah.” Itu dikatakan pada Desember 2015 lalu. Akhirnya, karena keberadaan Riza Chalid yang tak kunjung diketahui, akhirnya Kejagung mengendapkan kasus ini. Memanfaatkan memori publik yang pendek, sampai akhirnya Riza Chalid tampil di antara tamu kehormatannya Surya Paloh di acara Akademi Bela Bangsa (ABN) Partai Nasdem.
Begitulah, indikasi kuat telah terjadinya “abuse of power” selama ini yang telah membuat buronan semacam Riza Chalid selalu lolos dari upaya pemanggilan oleh Kejaksaan, KPK maupun Kepolisian. Acara resmi Partai Nasdem seperti Akademi Bela Negara pun ditunggangi untuk jadi ajang “Akademi Bela Koruptor” demi upaya-upaya “mencitrakan” seolah sosok Riza Chalid ini “dekat” dengan pusat kekuasaan. Sebuah manuver “post-truth” yang licik luar biasa.
Kembali ke soal Rakernas PSI di Makassar baru-baru ini. Menjadi semakin teranglah mengapa Jokowi berujar sangat lantang akan kerja keras dan mati-matian untuk memenangkan PSI agar bisa duduk di parlemen maupun eksekutif. Selain demi keberlanjutan pelaksanaan kebijakannya (developmentalisme)nya dulu – yang kabarnya – kerap “disunat” oleh parpolnya yang telah memecatnya, ia juga sadar sepenuhnya bahwa oknum-oknum dari parpol koalisinya yang sekarang pun tak kalah “barbar”nya dalam menggerogoti uang rakyat.
Maka ia butuh partai politik yang bersih dan bisa ia “bina” demi melanjutkan kerja-kerja politik baik di negeri ini. Ya, politik baik. Ia rela bekerja keras bahkan mati-matian untuk mewujudkan cita-cita kenegarawanannya. Dan Ketum PSI Kaesang Pangarep menjawab dengan sungguh-sungguh, bahkan dengan metafora yang dahsyat bahwa ia akan peras darahnya untuk bisa mewujudkannya bahkan sampai menitikan air mata.
Begitu mengharukan. Maka seluruh peserta Rakernas PSI beserta seluruh pendukungnya di seantero Nusantara, yang ikut menyaksikan lewat siaran langsung atau daring, bergemuruh meneriakkan, “Gajah! kuat, bijak, setia”. Siap berkolaborasi dengan siapa pun yang ingin menegakkan politik kebaikan di negeri ini.
Waktunya tidak banyak, hanya dua dekade sampai ke tahun 2045, apakah Indonesia bisa menjelang masa keemasannya atau malah meneruskan masa “kecemasannya”. Pertumbuhan ekonomi dari kisaran 5 persen ke “double-digits” untuk sampai ke GDP di kisaran USD 15 ribu bahkan di atas USD 50 ribu per kapita per tahun atau lebih.
Indonesia, mau tidak mau, harus mampu melewati koridor waktu dan kesempatan yang sempit ini (narrow corridor) dengan kuat, bijak dan setia pada cita-cita mulia para pendiri bangsa.
Gajah! Kuat, bijak, setia.

(Keterangan Foto : Pimred infoindonesiainews.com Liesnaegha dan Bapak Jokowi Presiden RI ke -7 saat Redaksi Bersilaturahmi ke Kediamannya sebelum berangkat ke Makassar”)
Narasumber Pewarta: Andre Vincent Wenas*,MM,MBA., pemerhati ekonomi dan politik, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis PERSPEKTIF (LKSP), Jakarta.
Editor Red : Egha.













