POLRES CIMAHI –
Sekelompok kreator konten horor menemukan jasad remaja di kawasan terbengkalai eks wisata Kampung Gajah, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jumat (13/2/2026) malam.
Awalnya, mereka hendak membuat konten dan sempat menemukan bangkai kucing. Saat ingin menguburkannya, mereka mencium bau busuk menyengat yang ternyata berasal dari jasad manusia dalam kondisi membusuk. Temuan itu kemudian dilaporkan ke polisi.
Akhirnya Polisi bergerak cepat menangkap dua remaja yang diduga menghabisi nyawa pelajar SMP berinisial ZAAQ (14) di area eks objek wisata Kampung Gajah, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat.
Motif pembunuhan itu ternyata berasal dari sakit hati karena hubungan pertemanan yang putus.
Kapolres Cimahi, AKBP Niko N. Adi Putra, mengatakan bahwa pelaku utama, YA (16), merasa tersinggung dan kecewa setelah korban menyatakan ingin mengakhiri hubungan pertemanan mereka.
YA lalu datang ke Bandung bersama rekannya AP (17) dan kemudian terjadi percekcokan yang berujung kekerasan.
Polisi juga menemukan bahwa korban dan pelaku sudah saling mengenal selama bertahun-tahun, sehingga putusnya hubungan itu dinilai memicu dendam yang berakhir tragis.
Keluarga Korban Ungkap Dugaan Konflik Lama dengan Terduga Pelaku Pembunuhan Siswa SMP di Bandung
Kasus dugaan pembunuhan terhadap seorang siswa kelas 1 SMP di Bandung terus bergulir. Keluarga korban mengungkap adanya riwayat konflik antara korban dan terduga pelaku yang disebut telah berlangsung sejak keduanya masih duduk di bangku sekolah dasar.
Terduga pelaku berinisial YA (16) diketahui merupakan kakak kelas korban saat keduanya bersekolah di salah satu SD di Garut. Menurut keterangan keluarga, sekitar setahun lalu sempat terjadi insiden kekerasan fisik yang melibatkan keduanya.
Kakek korban, Undang, menyampaikan bahwa cucunya pernah mengalami pemukulan hingga mengenai bagian mata. Peristiwa tersebut, kata dia, sempat dimediasi dan mempertemukan kedua belah pihak keluarga serta perangkat lingkungan setempat.
“Waktu itu sudah dimusyawarahkan. Keluarga dari pihak sana hadir, termasuk RT. Kami sudah menegaskan agar yang bersangkutan tidak lagi menghubungi atau mendatangi cucu saya,” ujar Undang.
Selain dugaan kekerasan fisik, keluarga juga menyebut korban kerap mengeluhkan tindakan perundungan dan pemalakan saat masih satu sekolah dengan terduga pelaku. Atas pertimbangan tersebut, keluarga akhirnya memutuskan memindahkan korban ke sekolah lain di Bandung.
“Tujuannya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan supaya anak bisa lebih tenang bersekolah,” tambahnya.
Kecurigaan keluarga terhadap YA kembali muncul ketika korban dinyatakan hilang. Menurut Undang, informasi dari perangkat lingkungan di Garut menyebutkan bahwa YA disebut pergi ke Bandung pada hari yang sama saat korban menghilang.
“Kami memang sempat menduga sejak awal, meskipun saat itu belum ada bukti,” katanya.
Terkait berbagai dugaan lain yang beredar di masyarakat mengenai latar belakang pribadi terduga pelaku, pihak keluarga menyebut informasi tersebut diperoleh dari cerita lingkungan sekolah. Namun hingga kini belum ada pernyataan resmi dari aparat penegak hukum yang menguatkan ataupun membenarkan kabar tersebut.
Pihak kepolisian masih melakukan pendalaman untuk mengungkap secara jelas motif serta kronologi lengkap peristiwa yang terjadi. Aparat juga mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi dan menunggu hasil penyelidikan resmi.
Kasus ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban sekaligus menjadi pengingat pentingnya penanganan serius terhadap kasus perundungan di lingkungan sekolah.
Kedua tersangka kini menjalani pemeriksaan hukum lebih lanjut.
Narasumber Pewarta: Press
Konpres AKBP Niko N. Adi Putra. Editor Red : Egha.













