Suara Publik : Aturan Baru, Ladang Lama Mengering, Saat Samsat Diuji, Siapa yang Sebenarnya Panik?”

  • Bagikan

JAWA BARAT – Kebijakan baru Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang menghapus keharusan KTP pemilik lama dalam pembayaran pajak kendaraan , tampaknya bukan sekadar angin segar bagi masyarakat. Lebih dari itu, kebijakan ini seperti membuka jendela di ruangan yang selama ini terlalu lama tertutup dan ternyata, tidak semua pihak siap dengan cahaya yang masuk.

Di balik semangat mempermudah pelayanan publik, muncul fenomena menarik di sejumlah kantor Samsat. Alih-alih langsung beradaptasi, beberapa justru terlihat berhati-hati atau mungkin terlalu berhati-hati.

Koordinasi dijadikan alasan, prosedur dijadikan tameng, seolah ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar penyesuaian administratif yang sedang dipertaruhkan.

Publik pun mulai membaca situasi ini dengan caranya sendiri. Selama ini, proses yang seharusnya sederhana kerap kali menjadi “tidak sesederhana itu”. Ada jalur cepat yang tidak tertulis, ada biaya yang tidak tercantum, dan ada kebiasaan yang entah sejak kapan dianggap lumrah.

Kini, ketika satu per satu celah itu mulai ditutup, wajar jika ada yang merasa kehilangan kenyamanan.
Jika ditarik secara logika sederhana, setiap prosedur tambahan yang tidak perlu selama ini tentu memiliki nilai. Nilai yang mungkin kecil jika dilihat per individu, namun menjadi signifikan ketika terakumulasi.

Dari yang sekadar “uang lelah”, hingga yang berpotensi menjadi aliran yang lebih sistematis. Maka, ketika kebijakan baru ini hadir, yang sebenarnya diuji bukan hanya sistem, tetapi juga kebiasaan lama.
Apakah pelayanan publik benar-benar siap kembali ke jalur yang semestinya?.

Ataukah, selama ini kita terlalu terbiasa dengan jalur-jalur yang “dimaklumi”?
Langkah yang diambil oleh Gubernur Jawa Barat patut dilihat sebagai upaya merapikan apa yang selama ini dibiarkan berjalan tanpa banyak pertanyaan.

Sebuah langkah yang sederhana di atas kertas, namun berdampak besar dalam praktik. Karena sejatinya, mempermudah masyarakat sering kali berarti menghilangkan sesuatu yang selama ini “menguntungkan” pihak tertentu.

Kini, publik hanya bisa menunggu:
apakah sistem akan benar-benar berubah,
atau justru hanya berganti cara?
Satu hal yang pasti, ketika kemudahan mulai terasa oleh masyarakat, maka di saat yang sama akan selalu ada pihak yang diam-diam merasa kehilangan.
Dan dari situlah, kita bisa mulai memahami, siapa yang sebenarnya sedang bekerja,dan siapa yang sebenarnya sedang panik.

NARASUMBER PEWARTA : SUARA PUBLIK/TIM RED. EDITOR RED : EGHA.

  • Bagikan