Dari Keterpurukan ke Platform Digital, Yans Zero Buktikan Kreativitas AI Bisa Menghasilkan Karya Terbaik Putra Bangsa

  • Bagikan
Img 20260710 142851
Img 20260710 142851

Bandung, Jabar – Di balik nama Yans Zero, tersimpan perjalanan panjang seorang musisi yang memilih bangkit dari keterpurukan melalui teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Jauh sebelum mengenal AI, dunia musik telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia pernah menjadi gitaris band, keyboardist, pemain organ tunggal, hingga mengiringi berbagai pertunjukan musik dangdut. Baginya, musik bukan sekadar hobi, melainkan dunia yang telah dicintainya sejak lama.

Namun, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Kondisi ekonomi sempat membuatnya terpuruk. Kesempatan kerja semakin sulit, hingga akhirnya ia harus memulai kembali dari titik nol.

Di tengah masa-masa tersebut, Yans Zero menemukan Suno AI. Awalnya ia hanya menggunakan akun gratis untuk membuat lagu-lagu berbasis AI, kemudian mengunggahnya ke TikTok. Saat itu, video yang dibuat masih sangat sederhana, hanya menampilkan lirik lagu tanpa visual pendukung.

“Saya sama sekali tidak berpikir lagu-lagu itu akan didengar banyak orang. Awalnya hanya untuk mengisi waktu, mengusir rasa bosan, dan menyalurkan kreativitas,” ujarnya.

Karena memang gemar menciptakan lagu, ide-ide terus bermunculan. Sedikit demi sedikit ia menghasilkan karya hingga jumlahnya mencapai ribuan lagu.
Meski demikian, perjalanan tersebut tidak selalu mendapat dukungan. Bahkan sang ibu pernah mengingatkannya agar tidak hanya menghabiskan waktu di depan ponsel.

“Main HP terus. Mending cari kerja. Kalau memang main HP, ya semoga bisa benar-benar menghasilkan.”
Kalimat itu, menurut Yans Zero, masih terus ia ingat hingga sekarang.

Ia juga menceritakan sosok ayahnya yang dahulu merupakan seorang musisi pada era 1980-an. Namun, nasib ayahnya tidak seberuntung rekan-rekan sesama musisi pada masa itu. Hingga kini, di usia yang tidak lagi muda, sang ayah masih bekerja membuat kantong pembungkus gorengan demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

“Saya sebenarnya sudah melarang Ayah bekerja. Saya ingin berusaha menggantikannya. Tapi mungkin orang tua memang tidak terbiasa berdiam diri tanpa melakukan apa-apa,” tuturnya.

Img 20260710 142912
Img 20260710 142912

Tidak hanya menghadapi keterbatasan ekonomi, Yans Zero juga mengaku sempat menerima perundungan dari beberapa kerabat. Musik AI dianggap tidak memiliki masa depan, tidak akan dihargai, bahkan diyakini tidak mampu bersaing dengan musik konvensional.

Alih-alih membalas, ia memilih menjadikan semua cibiran tersebut sebagai motivasi untuk terus belajar.
Situasi serupa juga dialaminya di TikTok. Di antara banyak apresiasi yang diterima, tidak sedikit komentar negatif yang meragukan kualitas musik AI. Namun, ia tetap konsisten berkarya.

Perjalanan itu mulai berubah ketika ia menemukan teknologi AI lip-sync. Awalnya, ia menggunakan lagu milik penyanyi lain hanya sebagai bahan latihan membuat visual. Setelah merasa cukup memahami tekniknya, ia memutuskan menggunakan lagu ciptaannya sendiri.

Keputusan tersebut menjadi titik balik.
Respons publik ternyata sangat positif. Lagu-lagu ciptaannya mulai digunakan oleh banyak kreator di TikTok. Hampir setiap karya baru yang dirilis mendapat pengguna sebagai sound dalam berbagai konten.

Melihat perkembangan tersebut, ia mulai mempelajari cara mendistribusikan musik ke berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music. Dari berbagai referensi di YouTube, ia mengetahui bahwa penggunaan Suno Pro dapat memberikan hasil yang lebih maksimal.

Dengan penuh keyakinan, ia akhirnya berlangganan Suno Pro.
Dua lagu pertama yang didistribusikan adalah “Jaga Diri” dan “Yans Zero Duda”. Meski awalnya pesimistis, hasilnya justru melampaui ekspektasi.
Lagu “Jaga Diri” digunakan oleh ribuan kreator di TikTok. Sejak saat itu, Yans Zero semakin percaya bahwa AI dapat menjadi wadah baru bagi kreativitas manusia.

Yang menarik, seluruh proses tersebut dikerjakan hanya menggunakan sebuah smartphone.
Ia tidak memiliki komputer berspesifikasi tinggi maupun studio rekaman profesional. Semua proses, mulai dari menciptakan lagu, mengedit, hingga mendistribusikan karya dilakukan secara otodidak melalui telepon genggam.

Merasa kualitas lagu harus diimbangi visual yang baik, ia kembali mempelajari teknologi AI untuk membuat video yang lebih realistis. Hampir setiap malam ia begadang hingga dini hari untuk terus bereksperimen, memperbaiki kesalahan, dan meningkatkan kualitas hasil karyanya.

Menurutnya, semua berawal dari rasa bosan, tidak memiliki pekerjaan, dan keinginan mencari tempat untuk berkarya.
“Daripada hanya menghabiskan waktu untuk scrolling media sosial, saya memilih menciptakan sesuatu,” katanya.

Perjalanan Yans Zero kemudian menarik perhatian lebih luas. Tidak hanya pengguna TikTok, sejumlah kreator hingga pelaku perfilman independen mulai menghubunginya.

Salah satunya datang dari seorang sutradara film independen yang mengajak dirinya berkolaborasi membuat teaser film menggunakan visual AI.
Awalnya ia merasa ragu karena belum pernah mengerjakan proyek serupa. Namun tantangan tersebut diterimanya dengan penuh kesungguhan.

Syukur Alhamdulillah, teaser yang dibuat mendapatkan apresiasi positif. Bahkan hasil karyanya benar-benar digunakan sebagai materi promosi proyek film tersebut.

Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa AI tidak hanya bermanfaat dalam dunia musik, tetapi juga mampu membantu para kreator visual, musisi, hingga sineas independen mewujudkan ide-ide mereka dengan biaya yang lebih efisien.

Hebatnya lagi, seluruh proses pembuatan teaser film itu tetap dilakukan hanya menggunakan smartphone tanpa komputer, studio, maupun tim produksi.
Semua dipelajari secara mandiri, mulai dari pembuatan visual AI, penyusunan adegan, proses editing, hingga teaser selesai.

“Saya bersyukur hasilnya mampu memenuhi harapan pihak sutradara dan akhirnya digunakan sebagai materi promosi film mereka,” ungkapnya.
Hingga hari ini, Yans Zero masih konsisten berkarya hanya dengan smartphone.

Baginya, keterbatasan alat bukanlah alasan untuk berhenti berkarya.
“Yang paling penting adalah kemauan untuk terus belajar, mencoba hal-hal baru, dan tidak menyerah meskipun banyak yang meragukan.”

Ia juga mengungkapkan bahwa salah satu alasan terbesar dirinya terus berkarya adalah pengalaman pahit yang dialami sepanjang 2024 hingga awal 2025.
Saat itu, ketika masih menggunakan Suno AI versi gratis, karya-karyanya lebih banyak mendapat cibiran dibandingkan dukungan. Banyak yang menilai musik AI bukan karya seni, tidak memiliki masa depan, bahkan tidak akan pernah diterima masyarakat.

Komentar-komentar tersebut sempat membuatnya terpukul. Ia bahkan pernah mempertanyakan apakah harus berhenti.
Namun pada akhirnya, ia memilih menjadikan semua kritik sebagai bahan bakar untuk berkembang.

“Saya tidak ingin menjawab dengan perdebatan. Saya ingin menjawabnya lewat karya.”
Keputusan itulah yang kemudian membawanya mempelajari AI lebih serius, meningkatkan kualitas musik dan visual, menggunakan Suno Pro, hingga mendistribusikan karya ke berbagai platform musik digital.

Kini, perlahan hasil kerja kerasnya mulai membuahkan hasil. Lagu-lagunya digunakan oleh ribuan kreator di TikTok, mendapat kesempatan berkolaborasi dalam proyek teaser film, serta membuka berbagai peluang baru yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

Bagi Yans Zero, perjalanan tersebut mengajarkan satu pelajaran penting.
“Kritik boleh datang, tetapi jangan pernah membiarkan kritik menghentikan langkah kita untuk terus belajar dan berkembang.( Red)

Img 20260710 142851
Img 20260710 142851
Img 20260710 142759
Img 20260710 142759
Img 20260710 142912
Img 20260710 142912

Narasumber: Yans Zero
Pewarta: Yans Zero
Editor: Egha

  • Bagikan