PEKANBARU – Sektor perkebunan kelapa sawit yang menjadi tulang punggung ekonomi Provinsi Riau kembali diuji. Penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit yang mengalami penurunan tajam oleh Dinas Perkebunan (Disbun) Riau dalam periode terakhir menjadi alarm bagi stabilitas ekonomi daerah. Kondisi ini secara langsung berdampak pada daya beli petani kecil dan pelaku usaha mikro di pedesaan.
Edwin Pratama Putra, S.H., tokoh muda nasional asal Riau sekaligus mantan Anggota DPD/MPR RI periode 2019-2024, angkat bicara mengenai situasi ini. Ia menekankan bahwa fluktuasi harga komoditas harus disikapi dengan kebijakan yang lebih berpihak pada kesejahteraan petani, bukan sekadar mengikuti mekanisme pasar yang seringkali tidak adil.
“Kita memahami bahwa ada dinamika pasar global, namun pemerintah tidak boleh tinggal diam melihat petani kita tercekik. Riau adalah lumbung sawit nasional, dan setiap penurunan harga TBS adalah ancaman bagi keberlangsungan ekonomi jutaan keluarga di daerah kita,” tegas Edwin.
Pesan Strategis untuk Pihak Terkait
Dalam pandangannya, Edwin memberikan poin-poin krusial bagi pemerintah dan masyarakat untuk memitigasi dampak dari penurunan harga ini.
Edwin mendesak evaluasi mendalam terkait regulasi ekspor dan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) serta pungutan ekspor yang memberatkan petani. “Pemerintah pusat harus memberikan relaksasi kebijakan agar pabrik kelapa sawit (PKS) memiliki ruang untuk membeli TBS petani dengan harga yang lebih rasional dan menguntungkan,” ujarnya.
Edwin mendorong Pemprov Riau untuk meningkatkan pengawasan terhadap kepatuhan PKS dalam menerapkan harga penetapan Disbun. “Pemerintah daerah harus lebih agresif melakukan sidak dan penegakan aturan. Jangan sampai ada PKS yang bermain harga di bawah standar yang sudah ditetapkan. Selain itu, percepat hilirisasi industri agar kita tidak hanya menjual komoditas mentah, tetapi produk turunan yang bernilai tambah tinggi,” tambah Edwin.
Edwin mengajak para petani untuk tetap solid melalui kelembagaan koperasi. “Saya mengimbau kepada seluruh petani untuk memperkuat kelompok tani dan koperasi. Dengan berkelompok, posisi tawar kita di hadapan pengusaha akan jauh lebih kuat. Jangan menyerah, tetap jaga kualitas hasil panen, dan mari kita dorong diversifikasi ekonomi agar tidak sepenuhnya bergantung pada satu komoditas saja.”
Optimisme untuk Riau
Meski menghadapi tantangan ekonomi yang berat, Edwin tetap menaruh harapan besar pada potensi Riau. Menurutnya, ketangguhan masyarakat Riau adalah modal utama untuk melewati masa sulit ini.
“Riau memiliki tanah yang subur dan sumber daya manusia yang hebat. Krisis harga ini harus kita jadikan momentum untuk melakukan evaluasi sistemik di sektor perkebunan. Saya percaya, dengan kolaborasi yang kuat antara kebijakan pusat yang berpihak, pengawasan daerah yang tegas, dan kemandirian petani, ekonomi Riau akan kembali bangkit dan lebih kuat dari sebelumnya,” tutup Edwin.
Narasumber Pewarta : Edwin Pratama Putra, S.H. /Pengamat Politik dan Anggota DPD RI periode 2014-2024, Dr. Fachrul Razi, Editor Red : Egha.













