BANDUNG, JABAR – Pakar Hukum Internasional, ekonom, Presiden Partai Oposisi Merdeka sekaligus Ketua Perkumpulan Advokat Muda Indonesia, Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H., menilai Pemerintah Provinsi Jawa Barat perlu memberikan kesempatan yang lebih luas kepada perusahaan-perusahaan kecil dan menengah daerah untuk terlibat langsung dalam proyek pembangunan.
Menurutnya, selama ini banyak proyek pemerintah, baik pada instansi vertikal maupun horizontal, lebih banyak dimenangkan oleh perusahaan besar yang memiliki modal miliaran hingga triliunan rupiah. Sementara itu, perusahaan kecil lokal sering kali hanya menjadi pelaksana melalui sistem subkontrak setelah proyek dimenangkan oleh perusahaan besar.
“Pada akhirnya, perusahaan kecil hanya menerima sebagian dari nilai proyek karena telah dipotong berbagai biaya dan keuntungan pihak lain. Akibatnya, kualitas pekerjaan yang dihasilkan tidak maksimal karena anggaran yang tersedia untuk pelaksanaan proyek menjadi jauh berkurang,” ujar Prof. Sutan Nasomal saat menjawab pertanyaan para pemimpin redaksi media cetak dan media online nasional maupun internasional di Markas Besar Partai Oposisi Merdeka, kawasan Cijantung, Jakarta, Sabtu (7/6/2026), melalui sambungan telepon seluler.
Ia mencontohkan, dari nilai proyek sebesar Rp500 juta, perusahaan kecil terkadang hanya menerima sekitar Rp350 juta setelah berbagai potongan. Dari jumlah tersebut masih harus diperhitungkan biaya operasional dan keuntungan perusahaan pelaksana, sehingga nilai riil pekerjaan yang dapat dilaksanakan menjadi jauh lebih kecil.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan hasil pembangunan kurang optimal dan tidak bertahan lama. Oleh karena itu, ia berharap Pemerintah Provinsi Jawa Barat dapat lebih banyak melibatkan perusahaan-perusahaan kecil yang memiliki kemampuan dan pengalaman kerja, sehingga mereka memperoleh kesempatan yang adil untuk berkembang.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Sutan Nasomal juga menyampaikan filosofi mengenai hubungan antara gula dan semut sebagai gambaran pembangunan di Jawa Barat.
“Jawa Barat memiliki gula yang manis, dan gula selalu disukai semut. Ungkapan ini memiliki makna yang sangat luas. Semut merupakan salah satu makhluk yang dikenal rajin, disiplin, mampu bekerja sama, serta menjaga keseimbangan alam. Karena itu, jangan pernah meremehkan kemampuan semut yang kecil namun bekerja dengan tekun dan penuh semangat,” katanya.
Ia menilai perusahaan-perusahaan kecil di Jawa Barat ibarat semut yang selama ini menjadi pekerja keras dalam berbagai sektor pembangunan. Apabila diberikan kesempatan yang lebih besar, mereka diyakini mampu berkontribusi secara signifikan terhadap kemajuan daerah sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.
“Bila tidak ada gajah yang mau diajak bekerja keras untuk Jawa Barat, maka jangan pernah meremehkan kemampuan semut. Perusahaan kecil juga memiliki kemampuan untuk berkarya dan berkontribusi dalam pembangunan daerah,” tegasnya.
Prof. Sutan Nasomal menegaskan bahwa Jawa Barat harus terus bergerak maju dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi dengan menciptakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi masyarakat. Untuk itu, ia mengajak Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersinergi dengan seluruh pelaku usaha, khususnya perusahaan kecil dan menengah, agar bersama-sama membangun daerah yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera.
“Jawa Barat harus terus maju dalam pembangunan dan ekonomi. Semua elemen pekerja keras yang ada di Jawa Barat perlu dirangkul dan diberi ruang untuk berkarya demi kemajuan bersama,” pungkasnya.
Narasumber: Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H.
Pewarta: Nofis
Editor: Egha













