Bandung Barat – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menemukan sejumlah dugaan pelanggaran saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke salah satu pabrik batu kapur di wilayah Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Selasa (15/7/2026).
Dalam sidak hari kedua tersebut, Dedi Mulyadi didampingi Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman, serta sejumlah pejabat Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Seperti pada sidak sebelumnya di pabrik berbeda, para pekerja di PT Raja Barokah Abadi diduga tidak mendapatkan jaminan kesehatan dari pihak perusahaan.
Fakta itu terungkap dari pengakuan sejumlah pekerja yang menyebut harus mengeluarkan biaya sendiri apabila mengalami gangguan kesehatan.
Menariknya, di salah satu sudut area pabrik terpampang sertifikat kepesertaan BPJS Kesehatan, namun kondisi di lapangan disebut tidak sesuai dengan yang tertera.
“Ini saya lagi mampir ke PT Raja Barokah Abadi. Di sini ada sertifikat kepesertaan BPJS, tetapi faktanya kalau sakit mereka berobat sendiri,” ungkap Dedi Mulyadi.
Dedi bahkan menyarankan agar para pekerja pabrik batu kapur dialihkan menjadi tenaga kebersihan di bawah tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jawa Barat.
Menurutnya, pemerintah masih mampu menampung sekitar 100 hingga 200 orang sebagai tenaga kebersihan dengan gaji sekitar Rp4,2 juta per bulan untuk membersihkan jalan-jalan di wilayah Padalarang yang selama ini dinilai kurang mendapat perhatian pemerintah daerah.
“Bapak-bapak, saya kasih tahu, kalau kerjanya seperti ini, lebih baik bekerja di PU saja menjadi tenaga kebersihan. Gajinya Rp4,2 juta,” ujar Dedi kepada para pekerja.
Selain menyoroti minimnya upah dan tidak adanya jaminan kesehatan, Dedi juga menyinggung dugaan pelanggaran prosedur lingkungan dalam operasional pabrik tersebut.
“Saya dulu pernah menutup tempat ini, tetapi menimbulkan polemik. Sekarang gunungnya habis, jalan setiap hari penuh debu dan pencemaran, sementara rakyatnya ternyata tidak sejahtera. Untuk apa diizinkan?” tegasnya.
Ia menyayangkan lemahnya pengawasan pemerintah terhadap aktivitas industri tersebut, padahal lokasinya tidak jauh dari pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat.
“Ini menjadi cermin bahwa jangankan yang jauh, yang di depan mata saja, dekat gerbang tol, sudah berpuluh-puluh tahun tidak ada yang memperhatikan,” katanya.
Di akhir sidak, Dedi kembali menegaskan komitmennya untuk melindungi lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Jujur saja, daripada gunung beak (habis) tetapi rakyat balangsak (miskin).
Kalau di sini ada 100 atau 200 tenaga kerja, saya tarik saja menjadi tenaga kerja Pemprov, gunungnya selamat,” pungkasnya.

Narasumber/Pewarta: Heri . Editor: Egha













