BANDUNG BARAT, JABAR – Sehubungan dengan akan berakhirnya masa jabatan Ketua KONI Kabupaten Bandung Barat pada bulan Mei 2026, maka sudah menjadi keniscayaan organisasi untuk segera melaksanakan Musyawarah Olahraga Kabupaten (Musorkab) sebagai forum tertinggi dalam menentukan arah dan kepemimpinan baru.
Momentum ini bukan sekadar agenda rutin lima tahunan, melainkan titik krusial untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola organisasi, arah pembinaan, serta integritas kepemimpinan di tubuh KONI Kabupaten Bandung Barat.
Sudah saatnya KONI Kabupaten Bandung Barat dipimpin oleh sosok nahkoda yang tidak hanya memiliki visi kuat, tetapi juga keberanian moral untuk menata ulang sistem yang selama ini terkesan berjalan tanpa arah yang jelas.
Kabupaten Bandung Barat sejatinya tidak pernah kekurangan atlet potensial, bahkan telah banyak melahirkan atlet-atlet berprestasi yang mampu meraih medali emas di berbagai ajang, baik tingkat Porprov maupun kejuaraan lainnya.
Namun, ironisnya tak bisa disangkal adalah ketika potensi besar tersebut tidak diimbangi dengan tata kelola yang transparan dan akuntabel..
Anggaran yang sejatinya cukup memadai, pada praktiknya belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh cabang olahraga dan para atlet. Ketika transparansi menjadi barang langka dan akuntabilitas sekadar jargon administratif, maka yang menjadi korban bukan hanya sistem, melainkan masa depan olahraga itu sendiri.
Lebih memprihatinkan lagi, minimnya perhatian, pembinaan, serta penghargaan terhadap atlet berprestasi telah mendorong sebagian dari mereka memilih hengkang ke daerah lain yang dianggap lebih memberikan kepastian dan apresiasi.
Fenomena ini tentu menjadi ironi sekaligus tamparan keras, bahwa daerah yang kaya potensi justru kehilangan aset terbaiknya karena kelalaian dalam pengelolaan.
Jika menilik ke belakang, perjalanan kepemimpinan KONI Kabupaten Bandung Barat dari periode ke periode seolah menyisakan pola yang berulang di mana persoalan pengelolaan keuangan dan manajemen organisasi kerap berujung pada persoalan hukum, bahkan menyeret nama lembaga ke ranah penegakan hukum seperti kejaksaan dan tindak pidana korupsi.
Sebuah catatan kelam yang semestinya tidak lagi terulang, namun justru menjadi pengingat bahwa perubahan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
Oleh karena itu, harapan ke depan tidak cukup hanya disandarkan pada pergantian figur, tetapi juga pada lahirnya komitmen kolektif untuk membangun sistem yang sehat.
Kepemimpinan baru diharapkan mampu menghadirkan transparansi sebagai budaya, bukan sekadar formalitas; serta menjadikan akuntabilitas sebagai prinsip, bukan sekadar laporan di atas kertas.
Sudah saatnya anggaran tidak lagi menjadi cerita yang hanya dipahami segelintir orang, melainkan menjadi instrumen nyata yang dirasakan manfaatnya oleh seluruh cabang olahraga dan para atlet. Karena pada akhirnya, prestasi tidak lahir dari retorika, melainkan dari pembinaan yang konsisten, dukungan yang nyata, dan kepercayaan yang terjaga.
Harapan besar juga tertuju pada lahirnya kepemimpinan yang mampu merangkul, bukan membelah; yang mendengar, bukan sekadar berbicara; serta yang bekerja, bukan sekadar berjanji. Sosok yang hadir bukan untuk mengelola kepentingan, tetapi untuk mengabdi pada kemajuan olahraga daerah.
Dengan nahkoda baru, semoga KONI Kabupaten Bandung Barat tidak lagi dikenal karena persoalan internalnya, melainkan karena prestasi atlet-atletnya. Tidak lagi menjadi bahan evaluasi tahunan, tetapi menjadi kebanggaan bersama.
Karena pada akhirnya, perubahan yang sesungguhnya bukan terletak pada siapa yang memimpin, melainkan pada keberanian untuk memperbaiki apa yang selama ini dibiarkan. Dan jika momentum ini kembali disia-siakan, maka yang hilang bukan hanya kepercayaan, tetapi juga masa depan olahraga Kabupaten Bandung Barat itu sendiri.
NARASUMBER PEWARTA: SUARA PUBLIK. EDITOR RED : EGHA.














